Powered by Blogger.

Just a Little Stories

sekedar caraku untuk mengerti apa itu hidup? untuk apa aku hidup? dan seperti apa aku menjalani hidup..



Aku tidak menjamin setiap orang akan jatuh cinta ketika pertama kali tiba di tempat ini,tapi jika kau lihat ke arah utara sana,hamparan sawah hijau yang begitu luas,dengar irigasi yang begitu rapi sisa-sisa pembangunan jaman belanda dulu,sungguh begitu memanjakan mata..di malam hari,masih ke arah utara,kau akan di manjakan dengan kerlap-kerlip lampu kota yang indah..letak tempat ini yang tepat di lereng gunung slamet,atau berada di ketinggian  1.050 meter dari permukaan laut,membuat mata kita mampu menyusup ke setiap sudut kota yang berada di bawah sana,atau melihat mungilnya kapal-kapal yang sedang berlayar di laut utara.

Hanya perlu beberapa langkah untuk keluar pekarangan rumah dan kau akan menyaksikan geliat sang surya di pagi hari,menikmati belaian hangatnya yang dengan perlahan mengusir dinginnya udara pegunungan,jongkokan badanmu sedikit,pejamkan mata,lalu perlahan sapukan tanganmu pada rumput-rumput yang basah oleh embun dan jernih dan begitu segar itu..tengoklah ke arah selatan,nikmati hamparan bukit-bukit yang nampak gagah,dan burung-burung yang mulai muncul dan bernyanyi dari rimbun pepohonan disana.

Aku tidak sedang berlibur di tempat ini,tapi aku di lahirkan disini,inilah kampung halamanku..

Sebuah tempat,yang bisa membuatku lupa bahwa aku rakyat Indonesia,kedamaian yang di berikannya melebihi dari kedamaian yang ku dapatkan setelah menonton TVRI.

Jika di TVRI aku menyaksikan,bagaimana bangganya rakyat pada sang presiden,maka,disini aku menemukan orang-orang yang justru melupakan Presiden..saat di kota orang-orang disibukan dengan hingar bingar politik,menuntut banyak hal pada pemerintah,orang-orang disini dengan antengnya tetap telaten menggarap sepetak sawah mereka,meskipun dengan harga bibit dan pupuk yang melambung tinggi.

Di TVRI aku tersenyum bangga ketika di beritakan bagaimana suksesnya pemerintah menjalankan program BLT tepat sasaran,tapi aku lebih bangga,ketika orang-orang disini semakin giat merawat ternak-ternak mereka terutama sapi dan kerbau..bagaimana mereka bisa membajak sawah kalau tanpa sapi dan kerbau..diesel?? bahan bakarnya terlalu mahal,dan BLT? ah lupakan,yang mereka tau cuma ada sticker berbunyi 'kluarga miskin penerima BLT' menempel di pintu rumahnya,tapi uangnya sepeserpen tak mereka rasakan.

Mereka hanya tertawa,ketika mendengar dagelan tentang kacaunya penyelenggaraan UN,siapa perduli? Toh meskipun anak-anak mereka lulus SMA,ujung-ujungnya ke sawah juga,macul,maen lumpur,mandiin kebo..kuliah?? lupakaann..kau takan tau apa-apa kecuali teori jika yang kau lakukan hanya duduk di balik bangku sambil baca setumpuk buku..sinii..tak perlu jadi sarjana pertanian untuk bisa membajak sawah..kata mang akim pada anaknya yang merengek minta kuliah..

Kami begitu akrab dengan penderitaan,jika sampah saja bisa di daur ulang menjadi sebuah barang berharga dan mahal,maka,pun begitu dengan penderitaan,dari sekian banyaknya,kami meleburnya menjadi satu,dan menjadikannya kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang cukup untuk membuat kami merasa yakin bahwa dunia telah berjalan dengan wajar,semestinya..

Kami tak pernah perduli,Presiden kami yang sibuk dengar account twitter barunya,tak pernah perduli dia punya resep nasi goreng singkong yang lezat,kami tetap nikmat makan dengan ikan asin dan sambil terasi,anak-anak kecil disini tak pernah iri dengan cucu presiden yang akrab dengan kamera SLR,disini,gangsing dari kayu dan kelereng tetap menjadi favorit. tak pernah perduli dia yang bisa berkumpul dengan kluarganya setiap hari,dan berlibur stiap weekend,Bi narti,suaminya menjadi bang toyyib karena tiga 3 tahun tak pulang-pulang pun tak masalah,selama kiriman uang bulanan untuk membeli berasnya lancar..

Lalu,siapa yang sebenarnya beruntung? Sang presiden yang memiliki rakyat yang tak banyak menuntut seperti kami,atau justru kami?? yang bahkan tak pernah perduli dan menganggap negri ini cuma mimpi??
Share
Tweet
Pin
Share
No comments



'Pada akhirnya kau akan tahu,bahwa menikah bukan hanya soal bercinta..' kata ibuku ketika aku mencoba menceritakan sedalam apa perasaanku padamu..

Satu persatu kelelawar keluar dari sarangnya,terbang bebas menembus cakrawala jingga,dan daun-daun pohon kelapa di atas bukit,bergoyang pelan penuh irama di tiup angin senja,di kejauhan sana,hamparan sawah padi yang baru saja selesai di panen,menjadi taman paling menyenangkan bagi anak-anak untuk bermain.

               "Kamu masih belum yakin juga sama aku?" katamu memecah sepi..
               
             "Aku bukan tak yakin padamu,tapi aku tak yakin pada diriku sendiri.." kataku..
              
            "Dan kita??"

               "Kita hanyalah bagian kecil dari serpihan-serpihan bernama takdir,kau lihat kelelawar itu?      keluar sarang,lalu pada saatnya nanti,mereka akan kembali,begitu juga kita..aku percaya,bahwa jodoh adalah puzzle2 takdir yang mulanya tersusun rapi..setiap potongan punya pasangannya sendiri2,aku tak ingin memaksa jika nyatanya kita memang berbeda.."

           "kita memang berbeda,tapi bukankah dari perbedaan itu kita bisa saling melengkapi satu sama lain?? layaknya puzzle yang kau sebutkan tadi??"

             "Kau pernah mendengar tentang saringan 3 kali dari Socrates??"

            "Aku tak suka filsafat.."

         "Ini sederhana,hanya pertanyaan tentang 3 hal,kebenaran,kebaikan,dan kegunaan,sekarang coba kau jujur pada dirimu sendiri..apakah kau benar-benar mencintaiku?? apakah mencintaiku membawa kebaikan untukmu dan untuk lingkunganmu? lalu apakah aku akan menjadi berguna untukmu??"

         "Tapi cinta bukan tentang itu semua,aku tak perlu bertanya pada diriku tentang itu smua,pun tak akan pernah sekalipun,karena aku cuma tau,bahwa aku mencintaimu,itu saja,And I will always be with you and there is nothing we can't do as long as we're together"

Lalu aku terdiam,kita sama-sama terdiam,menikmati waktu yang seakan terhenti,menikmati saat dimana masa lalu dan masa depan melebur menjadi satu,menjadi kosong..inilah senja,dan seandainya saja bisa,aku ingin mencintaimu seperti senja,tanpa bayang-bayang masa lalu,pun ketakutan akan masa depan,tanpa ketakutan akan rasa sakit dan kekecewaan.

Sementara sayup-sayup terdengar suara ibu-ibu yang memanggil anak-anaknya untuk segera pulang,karna senja akan segera berlalu,digantikan sandikala,puncak transisi antara siang dan malam..aku mundur perlahan,meninggalkanmu yang masih terdiam sendirian,semakin jauh..semakin jauhh..dan kini,yang terlihat hanya siluetmu yang indah,dengan rambut panjang tergurai dan tertiup angin senja,di atas bukit,cahaya mentari pun perlahan meninggalkanmu,meninggalkan kenangan kita,hangatnya habis di gantikan dingin malam,dan muncul rembulan,yang meskipun terang,tapi misterinya begitu menakutkan..

maafkan aku...


Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Waktu kecil,aku pernah bertanya pada kakekku tentang apa itu Takdir,lalu jawabnya 'Kau mendapatkan hasil dari apa yang kau lakukan',belum sepenuhnya aku bisa memehami maksud dari perkataannya,kakek melanjutkan 'urip iku ngunduh wohing pakerti,hidup adalah capain demi capaian dari apa yang kau lakukan,baik dan buruk hasilnya tergantung dari apa yang kau kerjakan..'

***
Malam ini,aku melihatnya tertidur begitu lelap,wajahnya damai,tanpa beban,dan ku harap hari-harinya berjalan seperti itu,gunjingan-gunjingan orang tentang siapa ayahnya tak pernah mengganggu hidupnya,layaknya bising suara kipas angin tua ini yang tak sedikit pun mengganggu tidurnya.

Setiap melihat wajah polosnya,apalagi ketika tidur seperti ini,manis dan getirnya bayangan masa lalu akan segera menghampiri,rasa sesal sekaligus syukur melebur menjadi satu,sampai aku tak tau apa yang sedang aku rasakan.

***
aku adalah gadis berumur 17 Tahun waktu itu,waktu ayahku yang katanya mantan anggota PKI itu harus meninggal ketika terjadi bentrok dengan preman-preman bayaran para investor yang ingin menjadikan lahan-lahan sawah di kampungku menjadi villa,setelah itu,ibu mengajakku pergi,meninggalkan kampung halaman yang aku sungguh mencintainya,walaupun aku tau dia tak pernah mencintaiku..dari kecil aku telah terbiasa di kucilkan,latar belakang masa lalu ayahku membuat orang-orang desa melihat keluargaku seperti sisa-sisa sampah yang menjijikan.

Orang bilang ibukota lebih kejam dari ibu tiri,tapi aku tak perduli,harapanku ketika pertama kali menginjakan kaki disini adalah 'kau tak akan sekejam kampung halamanku,jakarta..'

Hidup di kontrakan kumuh di bantaran sungai ciliwung aku masih kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan tak tau harus berbuat apa,melanjutkan sekolah sepertinya terlalu mustahil,bisa bertahan hidup dari hasil kerja ibuku menjadi buruh cuci pun rasanya itu adalah keberuntungan paling maksimal untuk kami.

Aku tak ingin sombong,tapi parasku yang lumayan cantik adalah satu-satunya modal bagiku untuk memberanikan diri bergaul serta memiliki teman,juga karena itu pula lah,99% teman-temanku adalah laki-laki.

***
Namanya Nando,resistensinya yang begitu keras terhadap lingkungan membuatnya begitu menonjol dari teman-temanku yang lainnya,sekaligus begitu menarik di mataku. sejarah hidupku yang selalu tertekan,di kucilkan,membuatku selalu ingin memberontak terhadap dunia,terhadap lingkungan,dan pada diri si Nando lah aku menemukan itu.

Aku tak bisa memungkiri,aku mulai jatuh cinta,dan kita mungkin bisa sepakat,bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa membuat kita menjadi begitu tolol. walaupun aku tak pernah merasa menyesal setelah keperawananku di renggut Nando,tapi saat-saat aku merasa dunia ini bisa adil dan menyenangkan kembali hilang ketika akhirnya aku Hamil dan Nando menghilang begitu saja.

Penderitaan yang aku alami sedari kecil membuatku tak pernah bisa membedakan antara terus berharap dan putus asa,dan inilah yang terjadi ketika aku harus 'ngunduh wohing pakerti,memetik hasil dari apa yang aku lakukan' . aku tak pernah berfikir sedikitpun untuk menggugurkan kandungan ini. ibu ku pun,meski aku tak pernah tau apa yang dia rasakan di dalam sana,dia hanya berkata 'bertanggung jawablah,pada dirimu sendiri.'

Dan ketika anakku lahir dan baru berumur 1 minggu,ibuku meninggal,penyakit darah tinggi membawanya meninggalkan dunia yang penuh rasa sakit.

Apakah kalian pernah berfikir,apa yang bisa aku lakukan hari itu,seorang gadis yang belum genap berumur 19 Tahun,hidup sebatang kara dengan nol pengetahuan tentang mengurus anak,dan disampingnya tergeletak seorang bayi berumur 1 minggu yang kulitnya pun masih merah??

Bunuh diri?? tak pernah terfikir sedikitpun untuk melakukannya,dari pada aku membunuh diriku sendiri,setelah itu tak ada yang mengurus anakku,lebih baik aku menjual diri ini,aku mendapatkan uang untuk membesarkan anakku,dan karunia Tuhan akan paras cantik ini tak sia-sia.

Hingga detik ini,aku dan anakku bertahan hidup dari tetes demi tetes peluh kenikmatan laki-laki hidung belang,siapa perduli?? jika aku harus di kucilkan oleh lingkungan,maka sejak kecil aku telah mendapatkannya. jika aku harus hidup dengan cacian,toh pujian pun tak bisa memberiku makan.

Desir angin dari jendela yang ku buka terasa semakin kencang,aku bangkit untuk menutupnya,sebelum menutup jendela,ku lihat dilangit sana rembulan mengintip malu-malu,seakan berkata 'Anakmu mungkin butuh uang,tapi dia juga butuh bangga siapa orang tuanya,fikirkanlah..'

Dan hati ini sungguh seperti tersayat-sayat,sambil ku cium kening anakku,aku hanya bisa berbisik lirih 'maafkan aku..'

Jakarta, 11-april-2013 20:45 Wib
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About Me

My photo
Moezaki Irkham
I'm forever blowing bubbles
View my complete profile

recent posts

Blog Archive

  • ►  2022 (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2021 (1)
    • ►  September (1)
  • ►  2020 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  April (4)
  • ►  2018 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2015 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2014 (3)
    • ►  September (1)
    • ►  January (2)
  • ▼  2013 (33)
    • ►  December (2)
    • ►  November (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ▼  April (3)
      • Mimpi Pemimpi-N
      • Kau bilang : I Live My Life For You..
      • Inside : Mawar Hitam Di bantaran Ciliwung
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2012 (48)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (7)
    • ►  September (6)
    • ►  August (1)
    • ►  July (8)
    • ►  June (2)
    • ►  May (4)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (59)
    • ►  December (3)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (8)
    • ►  July (4)
    • ►  June (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (9)
    • ►  February (9)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (48)
    • ►  December (3)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
    • ►  February (15)
    • ►  January (11)
  • ►  2009 (61)
    • ►  August (23)
    • ►  June (20)
    • ►  May (18)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Created with by ThemeXpose | Copy Blogger Themes