Powered by Blogger.

Just a Little Stories

sekedar caraku untuk mengerti apa itu hidup? untuk apa aku hidup? dan seperti apa aku menjalani hidup..


Mencari Tuhan keluar dirimu tidak hanya sia-sia. Tapi juga salah jalan. Seperti mendobrak kegelapan menuju keruwetan tanpa ujung.

Tuhan ada dalam dirimu, hanya saja tidak kau sadari.

من عرف نفسه، فقد عرف ربّه
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Jakarta, 20 April 2022~
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Suatu hari seorang Tabiín bernama Abdullah bin Muhammad sedang berpatroli untuk mengawasi daerah pesisir. ditengah padang pasir nan gersang itu beliau melihat sebuah kemah yang di dalamnya ada seseorang lelaki tua yang kehilangan kaki dan tangannya. mata dan telinganya pun telah melemah, sehingga praktis hanya mulutnya saja dari semua bagian anggota badannya yang masih berfungsi dan bermanfaat. ketika mendekat ke dalam kemah itu sayup-sayup Abdullah bin Muhammad mendengar orang ini terus menerus mewiridkan doa dari mulutnya :

للَّهُمَّ أَوْزِعْنِي أَنْ أحمدك حمدا أكافىء بِهِ شُكْرَ نِعْمَتِكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ ، وَفَضَّلْتَنِي على كَثِيرٍ من خَلَقْتَ تَفْضِيلا

“Ya, Allah. Tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu, hingga aku dapat menjalankan rasa syukurku atas nikmat-nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku, dan Engkau sungguh telah melebihkan aku di atas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan.”

Mendengar itu Abdullah bin Muhammad Kepo dan bertanya : "Wahai laki-laki tua, nikmat apa yang Allah berikan padamu sehingga kau begitu bersyukur padahal kondisimu begitu memprihatinkan? dan apa pula yang membuatmu merasa lebih beruntung dari orang lain?"

Laki-laki tua itu menjawab : "Wahai saudaraku, diamlah. Demi Allah, seandainya Allah datangkan lautan kepadamu dan aku tenggelam, atau gunung api dan aku terbakar, atau langit yang runtuh dan aku remuk. aku tidak akan mengatakan apapun kecuali rasa syukur."

Lalu dia melanjutkan : "Wahai hamba Allah.. karena engkau telah melihat keadaanku, sudikah kiranya kau membantuku. aku tidak mampu untuk berbuat apa-apa. aku memiliki seorang putra yang selalu membantuku. mewudhukanku ketika waktu sholat tiba, memberiku makan dan lain-lain. tapi sudah 3 hari ini aku kehilangan dia. bisakah kau membantuku untuk mencarikan dia?"

Abdullah bin Muhammad pun menyanggupi dan bergegas pergi untuk mencari anak dari laki-laki tua tersebut. belum terlalu jauh beliau berjalan beliau menemukan jenazah yang sedang dikerubungi oleh segerombolan singa. ternyata itu adalah jenazah anak dari laki-laki tua tersebut. beliau pun kebingungan bagaimana cara menyampaikan kabar buruk ini kepada laki-laki tua tersebut.

Sesampainya di kemah Abdullah bin Muhammad berkata : "Wahai saudaraku, apakah kau tau kisah Nabi Ayub?"

Laki-laki tua itu menjawab : "Ya aku tau."

Abdullah bin Muhammad melanjutkan : "Sesungguhnya Allah telah memberikan cobaan kepada Nabi Ayub perihal hartanya. kau tau bagaimana Nabi Ayub bersikap dalam menghadapi cobaan tersebut?".

Ia menjawab : "Nabi Ayub menghadapinya dengan sabar."

Abdullah bin Muhammad kembali bertanya : "Allah juga menguji Nabi Ayub dengan kefakiran. bagaimana sikapnya?"

dia menjawab : "Ia bersabar"

Abdullah bin muhammad terus bertanya : "Nabi Ayub pun diuji dengan tewasnya smua anaknya. bagaimana sikapnya?"

lagi-lagi dia menjawab : "ia tetap bersabar."

Abdullah bin muhammad masih terus bertanya : "Nabi Ayub juga diuji dengan penyakit ditubuhnya. bagaimana sikapnya?"

Dia menjawab lagi : "Dia tetap sabar. sekarang katakan dimana anakku?"

Abdullah bin Muhammad menjawab : "Wahai orang tua, sesungguhnya anakmu aku temukan telah tewas dimakan binatang buas. semoga Allah melipat gandakan pahalamu dan menyabarkanmu."

lalu dengan tenang dan raut bahagia laki-laki tua itu berkata : "Alhamdulillah, Allah tidak meninggalkan keturunan bagiku yang bermaksiat kepada Allah sehingga di azab di neraka."

tidak lama setelah itu laki-laki tua itu menarik nafas panjang kemudian meninggal dunia. Abdullah bin Muhammad kebingungan bagaimana caranya mengurusi jenazah laki-laki tua tersebut sendirian. beliau menutupi jenazah tersebut dengan jubahnya. ditengah kebingungannya tiba-tiba melintas 4 orang penunggang kuda.

Salah seorang diantaranya berkata : "Wahai saudaraku, apa yang terjadi kepadamu?"

Kemudian Abdullah bin Muhammad menceritakan apa yang dialaminya dan meminta bantuan 4 orang tersebut untuk mengurus jenazah laki-laki tua tersebut.

Mereka pun berkata : "Siapa dia?"

Abdullah bin Muhammad menjawab : "Aku juga tidak mengenalnya. ketika ku temui dia dalam keadaan sakit dan memprihatinkan."Keempat laki-laki ini pun meminta untuk dibuka penutup wajahnya barangkali dia adalah seseorang yang mereka kenal. ketika penutup wajahnya dibuka mereka tersentak kaget lalu mereka mencium dan menangisinya. mereka berkata : "ini adalah wajah yang senantiasa bersujud kepada Allah, mata yang selalu menunduk atas apa yang diharamkan Allah dan tubuh yang selalu sujud ketika orang-orang dalam keadaan tidur."

Abdullah bin Muhammad penasaran : "Kalian mengenalkan?"

keempat laki-laki itu balik bertanya : "Kau tidak mengenalnya?"

Mereka melanjutkan : "Dia adalah Abu Qilabah Al Jarmi. dia adalah sahabat dari ibnu Abbas. dia sangat mencintai Allah dan rasulnya. laki-laki tua ini juga, pernah diminta oleh Khalifah untuk menjadi Hakim, namun dia tolak dan memilih pergi untuk mengasingkan diri bersama putranya."

Setelah beres mengurus jenazah Abu Qilabah malam harinya ketika Abdullah bin Muhammad tidur, beliau bermimpi melihat laki-laki tua itu berada di sebuah taman yang indah. dia memakai 2 lembar kain dari surga sambil membaca ayat alquran :

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
"Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga), karena kesabaran kalian, Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." [QS. Ar-Ra'd:24]

Abdullah bertanya kepadanya, "Bukankah engkau adalah orang yang aku temui tadi siang?".  la berkata, "Benar". Abdullah berkata, "Bagaimana engkau bisa memperoleh semua ini." Ia berkata,

”Sesungguhnya Allah menyiapkan derajat kemuliaan yang tinggi, yang tak dapat dicapai, kecuali dengan sikap sabar ketika diberi cobaan, dan rasa syukur ketika dalam situasi lapang, dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah, baik dalam kondisi sendirian atau di depan banyak orang.”

Wallahu a'lam bishowab.

Dalam khazanah islam kita biasa menemui kisah-kisah seperti ini. cerita-cerita tentang kesabaran orang-orang terdahulu, serta bagaimana mereka bisa mensyukuri hidup bagaimapun keadaannya. Namun cerita Abu Qilabah ini menjadi salah satu yang paling epik dan memorable buat gw.

Membayangkan kondisi fisiknya, gw akan memaklumi jika beliau memilih untuk mencaci maki takdir. pun gw akan memahami jika beliau memilih untuk menggugat atau membenci Tuhan sekalipun. tapi itu tidak beliau lakukan. beliau justru mengembalikan semuanya kepada Tuhan dengan sudut pandang yang bukan lagi positive, tapi dengan level ke pasrahan seorang hamba yang luar biasa.

ini yang seringkali sebagai manusia modern sering kita lupakan. kita percaya adanya Tuhan, tapi kita lupa jika baik, buruk dan segala apa yang terjadi dalam kehidupan adalah atas kehendaknya. dan kita tidak sedikit pun punya daya atau upaya untuk mengaturnya. kita tidak hanya lemah, tapi kita bahkan bukan apa-apa. we are nothing. yang bisa kita lakukan hanya berencana. sisanya Tuhan yang  ACC.

Belum lagi bagaimana kemampuan beliau berdialektika dengan keadaan. seperti ketika beliau mendapat kabar bahwa anaknya telah meninggal. alih-alih meratapi kematiannya. beliau malah bersyukur karena anaknya meninggal. baginya, dengan meninggalnya anaknya maka hilang pula potensi untuk anaknya bermaksiat kepada Allah. Gokil ga tuh? bisa kita berfikir seperti itu? menandang Kehidupan dan Kematian secara sederhana tapi luar biasa. bisakah kita memandang hidup sebagai sebuah kesempatan yang masih diberikan Tuhan untuk terus berbuat kebaikan, dan mensyukuri kematian sebagai kasih sayang Tuhan karena DIA tidak ingin kita terus melakukan kejahatan.

Abu Qilabah juga mengajarkan kita untuk tetap struggle menghadapi kehidupan apapun keadaannya. dengan kesabarannya, dia tidak menunjukan sikap eskapis dan pasrah. tapi tetap berusaha diselingi dengan rasa syukur apapun hasil dari usahanya pada akhirnya. seperti ketika anaknya menghilang, dia tidak pasrah, tapi tetap meminta bantuan untuk dicarikan anaknya. dan ketika pada akhirnya dia mendapati kenyataan pahit anaknya telah meninggal. dia tetap bersyukur.

Jika kita bisa menjadi seperti Abu Qilabah di era sekarang adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. karena bukan hanya sulit dan hampir mustahil menjadi seperti beliau di tengah gempuran gaya hidup konsumerisme, ambisius akan hasrat kedunawiaan serta tuntutan dari lingkungan untuk terus menjadi seperti yang diharapkan.

Kenapa hari-hari ini kita begitu familiar dengan isu-isu mental health yang berhubungan dengan semangat? seperti burn out, toxic productivity dan lain-lain? bukankah seharusnya menjadi semangat itu bagus? gw rasa karena kita lupa akan 2 hal lainnya. yaitu Sabar dan Sukur. padahal ada paket 3S yang seharunya tidak terpisahkan: Semangat, Sabar, dan Syukur.

Hari ini kita begitu bersemangat dan berambisi mengejar cita-cita, tapi kita lupa bersabar dan bersukur. kita boleh bersemangat, tapi kita juga tidak lupa untuk bersabar dan bersyukur. karena percayalah, ketika kita bersemangat tanpa diiringi dengan sabar dan syukur, maka kita akan mudah kelelahan. mudah meratapi kegagalan dan impulsif membenci kehidupan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Pernah engga lo ngeliat orang lain, entah itu temen, keluarga, artis idola, ustadz, ilmuwan, atau siapapun terus lo kagum dengan pencapainnya lalu bergumam dalam hati : anjirr harusnya itu gw.

Bukan iri,

Cuman apa yang dia capai adalah hal yang selama ini lo inginkan. dan lo tau klo sebenernya lo bisa aja jadi dia, lo pernah bercita-cita untuk jadi seperti dia, lo merencanakan untuk jadi seperti dia ,lo tau apa yang harus dilakukan untuk menjadi seperti dia. Tapi sekarang lo melihat pencapaiannya pada orang lain. Sedangkan lo, masih di posisi yang sama seperti ketika lo merencanakan itu semua, mungkin itu 1 tahun yang lalu, 2 tahun yang lalu, atau 10 tahun yang lalu.

Dan semua itu terjadi hanya karena lo ga melakukan 1 hal : Memulai. Dan tentu saja apapun alasannya selalu ada pilihan untuk memulai, dengan sebuah tindakan yang sangat simple dan sederhana sekalipun.

What happen?? Dalam dunia Human Behavior Namanya Inertia Effect, atau lebih beken dengan istilah Terjebak Di Zona Nyaman. Dan ini instingtif. Artinya memang udah dari sononya kita itu enggan untuk bergerak, bertindak dan melakukan perubahan serta lebih suka dengan status quo Zona Nyaman. Feeling good dan Pewe Pewean ala anak pantai. 

Tapiii, walaupun bawaan lahir bukan berarti kita boleh membiarkan dan mentolerirnya begitu aja. Justru karena kita tahu si Inertia Effect ini instingtif dan dia adalah penghambat, maka kita perlu untuk mengalahkannya. Supaya hidup kita enggak dikendaliin sama dia terus kita nyemplung ke jurang penyesalan yang sangat nestapa.

Terus gimana cara ngalahinnya cek? Temukan dorongan dari dalam diri. Cari alasan yang cukup kuat kenapa kita harus dan mesti melakukan itu. Bisa alasan apa aja. Entah itu passion kah, materi kah, harga diri kah, cinta kah, whatever. Dan jadikan itu tujuan, bukan sekedar angan atau keinginan. (Walaupun hampir sama saja, tapi tujuan 1 level lebih tinggi dari keinginan.) sederhana memang, tapi jangan remehkan kesederhanaan dalam memulai sesuatu. Karena seringkali hal-hal besar dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana. Nah ketika sudah melakukan ini artinya kita sudah selangkah lebih maju, dalam berfikir.

Lalu, Untuk bisa berhasil kita perlu menselaraskan 2 hal. Fikiran dan tindakan. Maka jika tadi kita udah bikin fikiran kita melangkah. Sekarang waktunya membuat tindakan bekerja. Bagaimana caranya? Jika dalam teori Inertia Effect kita itu cenderung resisten terhadap perubahan drastis dalam diri, maka kita bisa membreak down apa yang akan kita lakukan menjadi langkah-langkah kecil dan sederhana lalu menjadikannya kebiasaan. sehingga kita bahkan enggak sadar telah melakukannya.

Dalam buku Atomic Habits James Clear ngebuka banyak fakta menarik dan ilmiah bagaimana kebiasaan bisa sangat menentukan kehidupan seseorang. Dan seringkali kebiasaan yang sangat menentukan hidup itu dimulai dari hal-hal yang amat sederhana. Misal, bangun tidur 5 menit lebih awal, push up 2 kali sehari, baca buku 1 halaman perhari, dll. Dibuku itu juga ada Teori Aturan 2 Menit, dimana yang gw pahami adalah: ketika kita memulai sesuatu kebiasaan baru, kebiasaan itu harus bisa dilakukan kurang dari 2 menit. Cobalah mulai dengan sesuatu yang sangat sederhana. Seperti kalo pengin jadi pemain bola professional ya mulai aja dengan make sepatu. Nanti kan abis make sepatu kita terus jadi latihan, abis latihan pasti bakal jago. Kalau lo pengen jadi musisi, ya mulai aja dengan subscribe chanel tutorial maen musik, dll. Intinya sih, mulai aja dulu, apapun itu. Alih-alih menunda dan terus-terusan ntar - sok - ntar - sok aja.

Contohnya nih. Gw selalu kepengin jadi penulis, karena gw pemalu tapi suka bercerita. Itulah kenapa menulis adalah solusi buat gw. Lalu gw tau, untuk menjadi pencerita yang baik gw harus punya banyak kisah yang bisa diceritakan. Untuk bisa jadi penulis gue perlu punya banyak wawasan yang bisa dibagikan. Dan itu artinya gw juga harus rajin baca. makanya langkah awal yang gw ambil untuk menjadi penulis adalah dengan membaca. awalnya kegiatan membaca itu masih terlalu berat dan males juga untuk gw mulai. Gw lebih suka nongkrong daripada ngabisin waktu berjam-jam buat baca buku. Walaupun gw tau gw perlu membaca buku, tapi gw males ga tau kenapa. maka ketika itu gw break down dengan : nongkrong di tukang koran. Dengan begitu gw bisa nongkrong, tapi juga sambil baca koran. Ntah itu koran kriminal, sport, otomotif. fashion, atau bahkan majalah-majalah dewasa. Terus apa dengan melakukan itu gw otomatis besoknya jadi penulis? Nope!! Walaupun tujuan akhirnya kesana, tapi ini kan soal memulai, dan sesederhana apapun sebuah langkah tetap saja sebuah kemajuan, jadi goalnya juga bukan itu. Tujuannya adalah membiasakan mata gw dengan tulisan, otak gw dengan hal-hal baru, dan ngasih tau alam bawah sadar gw bahwa membaca itu menyenangkan. Setelah dia menangkap itu. Maka membaca akan menjadi kebiasaan gw, dimana saja dan kapan saja. Dan ketika itu terjadi artinya gw udah beberapa langkah lebih maju mendekati tujuan gw sebagai penulis.

Mudah dan enggak kerasa kan? Tapi rasain effectnya dan terkagetlah dengan hasilnya jika lo berhasil melakukan langkah demi langkah kecil itu dengan konsisten setiap hari. Dan ya, konsisten adalah koentji. (akan kita bahan pada tulisan yang lain)

Tapi untuk permulaan we just need to take tiny steps and make it easy lalu biarkan semesta bekerja. Sehingga ketika kita melihat orang lain lebih dulu berhasil melakukannya alih-alih jadi iri kita malah akan termotivasi. Alih-alih bilang : dia bisa kenapa gue engga?? Tapi kita akan bilang : on my way, see you on top, juragan.

Good luck, for us. Cherrs. 😏
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


Ubi Societas ibi uis – Di mana ada masyarakat disitu ada hukum. Begitu kurang lebih Bunyi Adagium yang paling terkenal ketika kita mencoba membahas tentang hukum. Artinya hukum adalah sesuatu yang mutlak harus dan pasti ada ditengah-tengah kehidupan manusia. Bahkan alam semesta. Hukum adalah dasar kehidupan, atau malah, hukum adalah kehidupan itu sendiri.

Tujuan dari Hukum adalah keadilan. Karena sebagai manusia yang katanya makhluk sosial dan harus hidup berdampingan satu sama lain, dengan ego dan kepentingannya masing-masing, Di perlukan suatu aturan, dasar pijakan untuk saling menjaga agar tidak saling merugikan. Ketika terjadi kesalahan, maka hukum hadir sebagai alat penyeimbang.

Kasus #PenyiramanAirKerasNovelBaswedan jelas menjadi satu omong kosong yang mencederai rasa keadilan banyak orang. Tak perlu menjadi ahli hukum untuk berpendapat bahwa apa yang terjadi bukanlah keadilan. pada akhirnya kita tahu semuanya hanya dagelan.

Gimana critanya, nyiram air keras ke muka orang Cuma di tuntut 1 tahun penjara? Ketika kita protes mereka bilang : semua sudah sesuai mekanisme hukum, kita mencoba seadil mungkin, karena dimata hukum keadilan bukan hanya untuk korban, tapi juga untuk pelaku. Mereka sudah meminta maaf, apa yang mereka lakukan juga tidak sengaja. Blablabla. Kalau memang itu yang disebut keadilan, rasanya kita sedang berusaha menghina diri kita sendiri.

Sementara di halaman lain, berapa banyak orang-orang yang justru bernasib jelek ketika bersinggungan dengan hukum, coba aja lo googling dengan keyword : kasus-kasus hukum paling menyayat hati di Indonesia. Maka lo akan kebingungan seperti apa sebenernya hukum itu bekerja, khususnya di Negara ini. Ada nenek-nenek yang dihukum karena nyolong kayu yang di tanam suaminya sendiri lah, ada nenek-nenek yang dihukum karena nyolong kakau seharga 2000 perak lah, bahkan gue masih inget banget kasus Fidelis yang ditangkep bahkan sampai di penjara karena menanam ganja untuk mengobati istrinya.

Oya, terbaru ada lagi kasus ganja medis yang menjerat Reyndhart Siahaan, dimana dia ditangkep karena mengkonsumsi ganja untuk mengobati penyakit syaraf yang dideritanya. Kenapa kok tiba-tiba nyambungnya ke ganja? Gue juga enggak tau. Ketika gue menulis ini tiba-tiba gue keinget sama tayangan konferensi persnya Dwi Sasono yang kebetulan juga ketangkep gara-gara ganja belum lama ini. Dalam video itu, dengan kostum seperti penjahat kelas kakap, lengkap dengan penutup wajah, beliau bilang dengan suara bergetar : saya bukan penjahat, saya bukan kriminal, saya bukan penipu, saya korban. Dan menyaksikan itu hati gue sedih, men. 

Iya oke dia salah, atau menyalahi aturan. Tapi coba kita lihat di konferensi lain, para koruptor masih bisa cengengesan. Penjahat-penjahat sebenarnya seperti para tersangka dikasus #PenyiramanAirKerasNovelBaswedan masih bisa petentang petenteng, merasa benar dan pada akhirnya memang hanya dihukum ringan. Terus nanti dibilang : hal salah dibandingkan dengan yang salah tidak menjadi benar. Lah iya gue lagi ga nyari kebenaran, gw lagi nyari keadilan.  Dimana letak adilnya? dimana letak hukumnya?? Atau barangkali benar seperti yang dikatakan banyak orang, pada akhirnya hukum hanya dijadikan mainan oleh mereka yang punya kekuasaan. Para penegaknya pun, lebih takut kehilangan pangkat dan jabatan daripada memperjuangkan keadilan.

Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Machiavelli tentang oportunisme. Ketika ditanya lebih baik ditakuti atau dicintai maka ia menjawab : Manusia tidak segan-segan lebih membela orang yang mereka takuti dibanding yang mereka cintai, karena cinta diikat oleh rantai kewajiban. Pada saat manusia telah mendapatkan apa yang diinginakannya, rantai tersebut akan putus. Sebaliknya, rasa takut tidak akan pernah gagal.

Nggak usah lo cape-cape jelasin segala hal tentang ilmu hukum ke gue, nggak usah lu jelasin lagi apa itu keadilan sama gue, bahkan kalo lo bacain kitab undang-undang 7 hari 7 malem di depan muka gue pun rasanya gue Cuma pengin jawab : Oh

Karena semua ini adalah penghianatan, dan menghianati hukum sama saja dengan menghianati kehidupan. Lalu apalagi yang mau kita harapkan kalau kehidupan pun sudah kita hianati??

Jika ditanya apa yang paling tua di alam semesta? Jawabannya adalah hukum, barangkali dialah yang Tuhan ciptakan pertama kali. dia ada sebelum semuanya bermula, kata “KUN” atau “Jadilah” yang Tuhan ucapkan adalah hukum, sangat jauh lebih tua dari sekedar undang-undang hamurabi di zaman Babilonia. Maka ternyata menghianati hukum bukan hanya menghianati kehidupan tapi juga menghianati Tuhan.

Dan siapalah kita berani menghianati Tuhan? Di sengat Corona makhluk kecil tak kasat mata saja sudah panik luar biasa.

Semoga kita lekas segar, karena bodoh bisa belajar. Tapi sembrono?? Biasanya harus di hajar dulu baru sadar. L
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
“Kebanyakan masalah di hidup kita disebabkan oleh dua hal: kita bertindak tanpa berpikir,atau berpikir tanpa bertindak.” kurang lebih demikian kalimat yang di ucapkan oleh seorang teman 9 tahun yang lalu ke gw ketika lagi galau-galaunya mikirin hidup. gw gak tau harus melakukan apa sama hidup gue. kerja nggak jelas, skill nggak punya, pendidikan pun acak-acakan.

dari dulu hobi gw emang mikir. tapi mikir doang actionnya nol. gw selalu punya ide-ide yang sangkin briliannya sampe gw sendiri kesulitan untuk mewujudkannya. hahaha 

gw juga selalu kesulitan setiap kali mencoba konsisten dengan apa yang gw suka. hasilnya gw jadi manusia gak jelas dengan banyak hobi tapi nggak ada satu pun yang mateng.

sampai ketika gw ikut kerja sama seseorang yang kaya raya buat ngurusin perpustakaan pribadinya dia dimana kerjaan gw tiap hari baca buku karena gw harus menyusun buku sesuai klasifikasinya. gw nemuin tumpukan buku PEAK karya Anders Ericsson. pas gw baca isinya ternyata bagus dan bikin gw jadi tau apa yang harus gw lakukan dengan hidup gw. makanya sekarang gw pengin share barangkali aja ada temen-temen diluar sana yang sedang mengalami kegalauan-kegalauan dalam hidup seperti yang gw rasakan dulu dan berharap ini bisa sedikit membantu.

Anders Ericsson sendiri adalah seorang Profesor Psikologi yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk meneliti para expert. dia meneliti tentang apa yang mereka lakukan sehingga mampu menjadi Ahli dalam sesuatu. bahkan ahlinya ahli, intinya inti, core of the core..lho?? kok jadi Pak ndul?? heuheu. dan ternyata yang mereka lakukan salah satunya adalah dengan belajar menggunakan metode Deliberate Practice. Deliberate Practice adalah metode belajar untuk meningkatkan performa dan keahlian tertentu dengan cara melakukannya terus menerus dan dengan cara yang benar serta efektif. 

Dalam salah satu judul penelitiannya yang berjudul : “The Role of Deliberate Practice in the Acquisition of Expert Performance” Ericsson memberi kita setidaknya 4 tips untuk bisa melakukan Deliberate Practice. 

Tips yang pertama adalah : Motivasi

Kita akan menjadi apa yang kita pikirkan. maka sangat penting untuk menanamkan motivasi dan optimisme yang tinggi dalam setiap tindakan yang kita ambil. Deliberate Practice adalah kegiatan jangka panjang yang harus dilakukan secara konsisten dan teratur. karena menurut Ericsson, untuk bisa menjadi Ahli kita perlu setidaknya menghabiskan waktu selama 10.000 jam untuk terus mempelajari apa yang ingin kita kuasai. bayangkan kalo kita nggak punya motivasi yang kuat? pasti belum apa-apa udah bosen di tengah jalan. 

Tapi namanya manusia gw tau nggak gampang untuk menjaga motivasi tetap membara. nah di sinilah pentingnya apresiasi. sering-sering lah apresiasi diri kita sendiri. karena mengharapkan apresiasi dari luar diri kita sendiri seringkali malah mengecewakan dan menimbulkan demotivasi. yakinkan bahwa kita tidak di letakan oleh Tuhan kedunia hanya untuk begini-begini aja. pasti ada tujuan luar biasa yang Tuhan rencakanan untuk kita. makanya hargai apapun yang kita kerjakan, jangan pernah meremehkan diri kita sendiri. karena kata Plato : “Jangan pernah mematahkan semangat kepada siapa pun yang terus membuat kemajuan, tidak peduli seberapa lambat." 

Tips yang kedua adalah : Latihan yang terencana.

Ketika orang bilang “Practice makes perfect” mungkin mereka nggak salah. tapi menurut Ericsson yang lebih bener lagi adalah adalah “perfect practice that makes perfect.” karena Deliberate Practire di desain khusus agar supaya skill kita meningkat pesat dan berhasil menjadi ahli makanya kita pun nggak bisa sembarangan berlatih tanpa efektivitas yang jelas.

Misal kita pengin Ahli menggambar, kita perlu cari tau jenis gambar model apa yang pengin kita kuasai? realistis kah? animasi kah? dengan begitu kita akan lebih fokus dan terhindar dari multitasking learning yang justru malah bikin rusak otak.

Tips ketiga adalah : Feedback.

Udah semangat banget, udah konsisten dan terencana, setelah sedikit demi sedikit kita mampu menghasilkan sesuatu dari yang kita pelajari langkah selanjutnya adalah mencari feedback atau umpan balik. karena hanya dengan feedback kita tau seberapa jauh kualitas pencapaian kita. karena target kita adalah melewati standar yang ada maka sangat penting untuk terus menerut mencari feedback agar kita tau letak kekurangan-kekurangan yang perlu di perbaiki dengan cara membandingkan dengan standar yang sudah ada ataupun dengan bimbingan mentor atau guru. bisa juga dengan ikut lomba atau kompetisi untuk mengukur sudah sejauh apa kemampuan kita.

Dan tips yang terakhir adalah : Repetisi atau pengulangan.

Seperti yang dijelasin di atas untuk menjadi Ahlinya Ahli kita memerlukan waktu setidaknya 10.000 jam. maka selama itu pula kita perlu menjaga motivasi tetap membara, melakukan latihan yang terencana dan mencari feedback terus menerus karena Repetisi adalah Koentji.

Kok lama? kok susah? enggak ada yang mudah dalam hidup ini, anak muda. Deliberate Practice membutuhkan komitmen, fokus, usaha, dan ketahanan mental yang kuat. dan kalo kita berhasil melalui semua itu, kita pasti akan mendapatkan peningkatan skill dan jadi Ahli di bidang yang kita pelajari. ini menjadi penting karena konon di era Globalisasi dan Revolusi digital 4.0 kaya zaman sekarang yang di butuhkan oleh dunia adalah para expert-expert di bidang tertentu, bukan orang-orang dengan banyak keahilan tapi semuanya setengah mateng.

Pada akhirnya, gw membuktikan sendiri bahwa dengan langkah-langkah yang tepat nggak ada yang nggak mungkin dalam hidup ini. karena seperti judul film documentarnya Joe Strommer yang dijadikan prinsip hidup oleh salah seorang kawan bahwa “The Future is Unwitten”. maka jangan pernah menyerah, jangan pernah putus asa dan jangan anggap mimpi-mimpi hanya angan-angan saja.

Terahir, gw pengin mengutip sebuah kalimat dari mendiang Stephen Hawking “Betapa pun sulitnya kehidupan, tampaknya selalu ada sesuatu yang dapat Anda lakukan dan sukseskan. Sangat penting bahwa Anda tidak menyerah. Bebaskan imajinasi Anda. Bentuklah masa depan," 

Salam.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

"Die Religion ... ist das Opium des Volkes", atau bahasa Indonesianya “Agama... adalah opium bagi masyarakat" merupakan salah satu quotes dari Karl Marx yang paling populer. Quotes tersebut diambil dari tulisannya yg berjudul "A Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right" yang muncul di media Deutsch-Französische Jahrbücher, Paris pada tanggal 7 & 10 Febuari 1844. 

Sebagai seorang theis, sejak awal gue jelas langsung menolak apa yang dikatakan oleh Marx. karena berdasarkan apa yang gw pelajari dari kecil. agama adalah tuntunan hidup. Ia (agama) adalah jawaban dari Tuhan untuk begitu banyak pertanyaan dalam hidup, dan memang itu kenyataannya. maka ketika Marx menyamakan agama dengan candu yang menenangkan,menahan rasa sakit , ilusi, tapi juga bikin kecanduan dan destruktif maka gw otomatis gak setuju. 

Tapi melihat kondisi hari ini, rasa-rasanya gue mulai mengerti. kenapa dulu Marx sampe kefikiran buat ngomong begitu. Pada awalnya mungkin quotes itu lahir atas dasar kritik Marx terhadap gereja, karena menurutnya ada hubungan ‘kotor’ antara gereja dengan pemegang kekuasaan yang terjadi di ranah agama dan politik Eropa pada abad ke 19. Marx sadar dan geram dengan kenyataan bahwa kaum elit penguasa itu menggunakan agama untuk memobilisasi rakyat untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri. persis seperti apa yang terjadi pada kita hari ini. dinamika politik di Indonesia hari ini polanya gak jauh-jauh dari agama. setiap hari, isu yang di angkat selalu soal agama. semua politisi berlomba-lomba untuk “menjadi” agamis. ada yang milih wakil presiden dari kalangan ulama, ada juga yang nyalon Presiden karena dukungan ulama, dll. 

Awalnya gw seneng, karena gw fikir “Ah mungkin ini nih era kebangkitan itu”. dimana agama menjadi motor utama. gw optimis ketika masing-masing pihak mengklaim bertindak dan berjuang atas dasar agama, dan gw percaya jika memang seperti itu, maka siapapun yang menang hasilnya pasti bagus untuk kita semua. 

Tapi kemudian keadaan membuat gw bingung. gw seperti berada di tengah-tengah orang-orang yang lagi Mabar Mobile legend dan gw gak main sendiri. setiap orang asik dengan fikirannya sendiri-sendiri, dengan caci makinya sendiri-sendiri, dengan emosi, kekesalan dan kebanggaannya sendiri-sendiri. sementara gw bingung dengan apa yang harus gw lakukan bahkan apa yang harus gw fikirkan.

semakin hari, kita bukannya semakin baik malah semakin hancur. kita ribut nggak udah-udah. perpecahan dimana-mana, provokasi dan caci maki membabi buta. membuat gw bertanya, kalo memang kita bergerak atas dasar agama? kenapa kehancuran yang kita terima? yang salah agamanya? atau kitanya yang kualat karena udah memperalat agama untuk tujuan-tujuan yang tidak seharusnya?

Mungkin jika terus seperti ini, alih-alih menjaga marwah atau kehormatan agama. kita justru sedang merendahkannya. dan jika apa yang kita lakukan kemudian melahirkan Marx2 baru yang anti agama, maka kita sendirilah orang pertama paling pantas untuk disalahkan. 

Tan Malaka pernah bilang “Sedangkan sebetulnya cara mendapatkan hasil itulah yang lebih penting daripada hasil itu sendiri.” maka jika kita menginginkan kebaikan, tapi prosesnya sendiri tidak baik, maka sia-sialah semuanya. 

Pada akhirnya, kita hanya bisa bertanya-tanya, sampai kapan semua ini akan berakhir? karena jika dilihat dari yang udah-udah, sepertinya perdamaian masih jauh. ntah kita sedang berada di era kerusakan karena ulah kita sendiri, atau memang kita sedang berada dalam proses “Revolusi” yang menurut Bung Karno adalah : “Menjebol dan Membangun”. tapi apapun itu mudah-mudahan seperti yang ditegaskan oleh Trotsky, bahwa masa damai itu mungkin ada.

Wallahu’alam.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hari ini di forum-forum kontent creator ramai oleh teman-teman creator yang mengeluhkan tentang minimnya apresiasi publik terhadap karya mereka. ada yang mengeluh tentang konten youtubenya yang dibikin dengan susah payah tapi setelah di upload minim dapat respon positive. ada pula blogger yang sudah susah payah bikin artikel, tapi setelah di publish hanya dalam hitungan jam tulisannya udah di copy oleh ratusan blog-blog lain dan sialnya blog-blog peng copy itu yang malah nangkring di page one google. belum lagi keluh kesah temen-temen ilustrator, tukang gambar manual, tukang bikin lagu, tukang jualan obat kuat, dll yang selalu kena grebek sama polisi moral setiap kali ngepublish karya mereka. udah susah-susah bikin gambar, tulisan, atau lagu cuma buat di kecam : Wah apaan nih sampah!! Perusak moral!! liberal!! bla..bla..bla..hahaha

Hal ini nggak cuma berlaku di dunia seni tentunya, apapun Profesi kita, mau itu Seniman, Buruh, Pedagang, atau makelar Tanah sekalipun hal paling penting tentu saja apresiasi. dalam bentuk apa saja. karena selain menjadi bukti bahwa hasil kerja kita diakui, apresiasi juga menjadi dorongan tersendiri untuk terus berkreasi. gak gampang memang untuk mendapatkannya, alih-alih dapet pujian, yang kita dapat malah lebih sering caci maki dan hinaan. hahaha

Makanya cara paling aman, paling nyaman, dan paling bener menurut gw agar kita tetep bisa terus berkarya adalah jangan pernah mengharapkan apresiasi. karena mengharapkan Apresiasi hanya bikin Frustasi lalu setelah itu kreativitas pun mati. 

Bagi gw pribadi, proses kreativitas, adalah sarana rasa syukur kepada Tuhan karena telah memberikan kita fikiran dan ketrampilan, bahwa DIA pasti gak akan seneng kalo kita menyia-nyiakannya begitu saja.

Makanya ketika membahas ini gw jadi inget sama Peringatan Isra Mi’raj yang baru saja di peringati 2 hari yang lalu. kebanyakan kita hanya mengaitkan Isra Mi’raj dengan perintah sholat 5 waktu. gak salah sih, tapi jika di gali lebih dalam, ada pelajaran lain yang lebih menarik disana. yaitu soal perjalanan, bahwasanya segala hal yang kita lakukan dalam hidup ini adalah “kerjaan” Tuhan yang memperjalankan kita. makanya gak usah terlalu khawatir, pun gak usah terlalu Pede. Tuhan yang punya perjalanan, IA juga yang akan menjamin semua akomodasinya. Alaika d Da’wah , Wa a lainal Balagh.. kerjain aja, sisanya urusanKu, begitu kata Tuhan.

Itu dari sudut pandang Agama, dari sudut pandang pengembangan diri, gw jadi inget sama konsep Adversity Quotient’nya Paul G Stoltz. menurut dia, Adversity Quotient adalah kecerdasan untuk mengubah hambatan menjadi peluang. kecerdasan yang sama yang dipake oleh Thomas Alfa Edison ketika akhirnya dia berhasil menemukan Lampu setelah melewati 50.000 kali percobaan. ketika ditanya apa rasanya akhirnya berhasil setelah ribuan kali gagal? dia jawab : gagal? gue gak gagal, gue justru berhasil menemukan 50.000 penyebab kenapa sebuah lampu gak berfungsi. gokill kan?

Kembali ke Paul G Stoltz, dia memakai terminologi para Pendaki Gunung untuk menjelaskan konsepnya. menurutnya ada 3 tipe pendaki Gunung. yaitu :

Quiter (Si gampang menyerah) boro-boro sampai puncak, baru naik bukit udah ngap-ngapan dan minta pulang. persis seperti mereka yang gak punya visi dalam hidup, dikit-dikit putus asa dan gak pernah mampu menyelesaikan apa-apa.

Lalu yang kedua Camper (Si Tukang Kemah) bagi mereka, gak perlu lah cape-cape kepuncak, cukup cari tempat yang paling Pewe di punggung bukit, gelar tenda terus ngecamp deh disitu. mereka sedikit lebih baik dari si Quiter, tapi kadang mereka terlalu suka berada di zona nyaman, akhirnya smua cita-cita besarnya selalu mandeg di tengah jalan.

dan yang terakhir adalah Climber (Si Pendaki Sejati) Orang-orang yang selalu berhasil sampai puncak, selalu berhasil melawan rasa malas dan putus asa, gak kenal lelah, berani menghadapi segala resiko. jangankan angin dan badai, macan ada di depannya juga macannya yang di tubruk sama dia.

Pelajaran dari semuanya di atas adalah, jika memang kita serius ingin berkarya, maka cukup jadikan Tuhan satu-satunya Audiens kita, lakukan apa yang memang kita suka terus menerus, dengan dedikasi, konsistensi dan determinasi. Insya Allah, kalopun tidak dapat apresiasi hari ini, tapi kita akan meninggalkan banyak legacy untuk anak cucu kita nanti.

lagipula, konon berkarya bukan soal sebanyak apa yang mengapresiasi, tapi soal sebanyak apa yang tertuang dari hati.

with love, A. Moezaki Irkham
untuk teman-teman yang sedang berada di persimpangan keraguan dan keputus asaan..
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
“If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader.” -John Quincy Adams
Kurang lebih demikian quotes yang selalu terlintas di fikiran saya setiap kali di ajak membahas pilpres. konon yang kita cari dari “festival” 5 tahunan ini adalah untuk mencari pemimpin. jika ditanya apa itu pemimpin? apa yang kamu harapkan dari seorang Pemimpin? maka setiap orang pasti punya jawabannya sendiri-sendiri. bagi saya pribadi, pemimpin adalah inspirasi, tentang sebanyak apa hidupnya bisa saya teladani. 

maka daripada saya ikut terjerumus mencari-cari dan menyebarkan kejelekan satu dua calon yang pada akhirnya nanti akan menjadi pemimpin saya. maka lebih baik saya mencari hal-hal apa yang bisa saya teladani dari mereka, yang ternyata banyak sekali.

Jokowi, misalnya. siapa sangka laki-laki kurus nan sederhana itu mampu menjadi satu-satunya presiden yang ketika menjabat anak-anaknya gak berurusan sama negara. malah dagang martabak dan pisang goreng. sepele memang, tapi tindakan ini berhasil menjungkir balikan konsep tentang pejabat = nepotisme yang selama ini saya percayai. setidaknya dia berhasil menjadi seorang ayah dalam membangun keluarga yang harmonis. sebagai seorang ayah juga, hal tersebut jelas menginspirasi saya.

Lalu Kiai Ma’ruf Amin, Kyai sepuh, dengan sederet gelar dan pengalaman memimpin organisasi, ahli ilmu ekonomi syariah, di hormati berbagai kalangan dari ulama, habaib hingga pejabat. adalah bukti nyata bahwa pasti masa mudanya tidak dilewatkan dengan sia-sia begitu saja. untuk bisa menjadi sekaliber beliau jelas butuh kerja keras, kecerdasan, ketekunan dan do’a yang tak ada henti-hentinya. maka siapalah saya berani meremehkan kemampuan serta kapasitas beliau? menirunya saja tak mampu.

Lalu Prabowo, banyak narasi negatif tentang beliau bersliweran di luar sana, seperti juga halnya calon-calon yang lain, tapi di mata saya, selalu saja terlihat bagaimana beliau berkali-kali di hianati oleh orang-orang yang dipercayainya, tapi beliau tetap tenang, memaafkan dan tak menyimpan dendam. dan jika beliau dianggap terlalu reaktif, maka bagi saya itu tidak lebih dari sebuah bukti bahwa beliau seorang yang memiliki empati tinggi, dan memberi pelajaran kepada saya tentang bagaimana menjadi manusia yang tulus dan pantang menyerah.

Sandiaga Uno, umur udah kepala 5, tapi masih tampak muda, sehat dan energik. kemana-mana bawa Infus Water, hobi olahraga, cerdas, pengusaha sukses. beliau tidak cuma menginspirasi anak-anak muda untuk tidak takut melangkah, tapi juga memberi contoh bagaimana untuk selalu perduli dengan kesehatan, karena sesukses apapun kita, sevisioner apapun kita, smuanya sia-sia kalo kepada diri sendiri aja kita tidak perduli.

Sebagai manusia, adakah yang mampu hidup tanpa cela? begitupun mereka, maka saya langsung setuju ketika Cak Nun bilang : dari sebaik-baik orang, jangan dicari buruknya. dan dari seburuk-buruk orang, carilah baiknya. Lagipula, siapapun yang terpilih. yang memang harus kita, rakyat Indonesia, dan cara paling mudah untuk menang adalah mengambil hal-hal baik dari mereka, kemudian mengimplementasikannya kedalam kehidupan pribadi kita, sehingga kita bisa terus tumbuh menjadi manusia yang lebih baik. 

anda boleh menyalahkan saya karena menggunakan prinsip ini untuk menimbang Presiden, anda boleh menganggap saya dangkal karena terlalu menganggap sepele persoalan Pemimpin Negara. tapi apa yang lebih penting dari mengambil pelajaran dari setiap kejadian? pun anda boleh terus berfokus pada kekurangan mereka, mencla-mencle, tua bangka, tempramental, ambisius. lalu setelah itu apa? apa yang kita dapatkan dari tindakan tersebut? hanya akan membuat kita membenci pemimpin kita sendiri jika salah satu dari mereka terpilih (dan pasti terpilih), dan lingkarang setan tidak akan pernah terputus. padahal yang terpenting adalah apa yang akan kita lakukan bersama-sama setelah 17 april nanti? apa yang akan kita lakukan bersama Pemimpin kita 5 tahun mendatang? mencelanya? atau membantunya? 

Pada akhirnya, jika ditanya siapa Presiden pilihan saya? maka jawaban saya adalah :

fa idza faragta fanṣab (Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)
wa ila rabbika fargab(dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.)

Sekian dan terimagaji :D
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


Ada hari-hari, dimana kau tidak lagi memiliki rasa dengan apa yang kau alami. mata yang terlalu nanar dengan polusi-polusi visual dan telinga yang terus berdenging di jejali keributan-keributan yang menjijikan. pada saat yang sama mulutmu terkunci, karena bersuara berarti menyakiti, atau berbicara sama dengan menyulut api. kau sadar, apa yang kau rasakan tak perlu lagi di jelaskan. kau hanya ingin menarik diri, berdiam di kegelapan sepi.

Titik dimana kau hampir putus asa, merasa terlahir bukan sebagai pejuang moral sosial, Kau ciptakan kenyataan baru dalam fikiranmu. yang (kau anggap) lebih baik dari kenyataan yang sedang terjadi. atau sebaliknya, kau hancurkan tatanan sosial sehancur-hancurnya. lalu menjadikannya standar tentang seharusnya dan tidak seharusnya kehidupan berjalan. sekali lagi, itu hanya berputar difikiranmu, menjadi satu-satunya yang hidup di antara nadir-nadir keputus asaanmu, seperti suara detik jarum jam di keheningan.

Kau bukan lari, kau hanya mundur selangkah untuk menjernihkan fikiran, menemukan kembali parameter kebenaran. karena kau percaya, salah parameter berarti salah penilaian, salah penilaian berarti salah tindakan, dan salah tindakan berarti salah pencapaian.

Saat itu kau kehilangan pijakan untuk membangun kembali konstruksi kebenaran karena batu-bata dinamika yang sudah terlanjur berserakan. “Kawruh Iku Gengem Dinegem Dadi, Ing Gelar Sak Jagad Ora Muat” = Pengertian benar itu digenggam ya bisa, namum kalau digelar sejagad pun tidak muat.

Orang-orang mulai melabelimu sebagai pecundang, pengecut yang tak punya cukup keberanian untuk menghadapi kenyataan, tapi kau tak perduli. kau lebih percaya dengan lagu Sleeping Sun milik Nightwish : "..The Sun is sleeping quitly.....For my dreams I hold my life.." kau berfikir, kau merintis, kau bebaskan diri dari kilatan puja-puji. 

Jika Sastrawan besar Almarhum Danarto berkata : “Hidup adalah ketika kita berada antara bangun dan tidur. Antara kenyang dan lapar. Antara mandi dan tak mandi. Separuh badan kita kering, separuhnya basah. Hidup adalah ketika kita….” maka kau percaya, bahwa hidup adalah kadang-kadang. kadang berhasil, kadang gagal, kadang bersuara lantang laksana muadzin peradaban, tapi juga kadang diam mengamati dari kejauhan. yang tak pernah kadang-kadang hanyalah fikiran, dia terus berjalan sekalipun segala indra kau hentikan ketika berharap sesuatu segera silam.

Hingga tiba saatnya, kau kembali dari keheningan, membawa seberkas cahaya bernama kebijaksanaan, membawa sesuatu bernama Rasa yang sempat hilang dari tataran kehidupanmu dan orang-orang di sekitarmu. kau membuka mata, dengan sorot optimisme dan dorongan untuk membawa kehidupan pada titik terbaiknya. 

Tak ada lagi tempat untuk keserakahan, ketamakan, dan pesta pora kesombongan, kau kembali menjadi manusia, yang tenang lagi menenangkan, yang selamat lagi menyelamatkan.



Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah
irji’ii ilaa Rabbiki
raadhiyatan mardhiyyah
Fadkhulii fii ‘ibaadii
wadkhulii jannatii



“Hai jiwa yang tenang
Kembalilah kamu kepada Tuhanmu
dengan hati puas lagi diridhai
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu
Maka masuklah ke dalam surga-Ku.”

(al fajr :27-30)






Share
Tweet
Pin
Share
No comments


                                            

Namanya Elon Musk, kalo lo ke toko buku sekarang dan pergi ke bagian Biografi, lo bakal nemuin buku-buku tentang doi memenuhi rak-rak disana.

Wajar aja, Sosok Bapak-bapak berusia 46 Tahun ini emang keren dan menginspirasi sih. di juluki 'Iron Man' versi dunia nyata, dia adalah manifestasi dari 3 hal pemutar peradaban milenial. Bisnis, Teknologi dan Transportasi masa depan berupa mobil listrik, dan roket luar angkasa yang bisa ngangkut manusia ke mars dan tinggal disana. gokil ga?

Dia ini orang gila kalo gw bilang. Mimpi-mimpinya diluar nalar sehat kebanyakan orang. Tapi dengan keseriusan, kerja keras dan dedikasi yang tinggi dia bisa buktiin kepada dunia kalo ide-idenya bukan sekedar isapan jempol belaka. dia pernah bilang :
" kalo ada sesuatu yang lo anggep penting, lo pasti bakal ngelakuin itu walaupun lo tau pada akhirnya lo gak akan dapat keuntungan darinya-".
Sebuah tamparan keras buat orang-orang macem gw yang suka meremehkan mimpi dan cita-cita sendiri karena menganggap itu terlalu tinggi. huft..

Di usia 12 Tahun dia berhasil menyelesaikan proyek pertamanya berupa game sederhana yang dia jual $500 ke majalah komputer. kalo orang-orang bilang "Nah itu, orang mau sukses mah dari kecil udah keliatan." Yesss.. nyatanya dari kecil Elon Musk Selalu selangkah lebih maju dari orang lain. Pantes aja kan kalo sekarang kita masih ribut-ribut soal pilkada dan agama doi udah bisa bikin mobil listrik sport, mobil terbang dan pesawat luar angkasa. hehehe

Fikirannya jauh kedepan. kemampuannya menangkap peluang bisnis juga di atas rata-rata. Musk cuma memulai perusahaan di bidang yang berpotensi buat berkembang. Pada tahun 1998, bidang ini adalah Internet. dia bikin Zip2, abis itu PayPal, keduanya berhasil berkat ledakan Internet. Terus Doi mengidentifikasi tiga bidang lain dan mulai masuk ke dalamnya. SpaceX (transportasi ruang angkasa), Tesla Motors (mobil listrik), dan SolarCity (tenaga surya) datang sebagai pelopor di industri dengan pertumbuhan yang tinggi dan kompetisi rendah. dari sini kita belajar, kalo masa depan itu nyata dan alangkah baiknya kita mengisi angan-angan tentang masa depan dengan hal-hal baik. jangan kasih sedikitpun ruang untuk pesimistis. Kata dia :
" Kalo elo bangun pagi dan percaya bahwa masa depan akan menjadi lebih baik. maka harimu akan indah. tapi kalo lo bangun dengan keputusasaan dan keraguan, maka itu adalah hari yang buruk."
Sing penting yakinnn bosss..

"Kegagalan adalah sukses yang tertunda." kita mungkin udah gak asing cenderung basi dengan quotes di atas. kita hafal, tapi kita gak pernah bener-bener berani gagal kan?? beda sama Elon Musk, dia pake 100 juta dari total 165 juta dollar yang dia dapet dari hasil penjualan paypal buat mendirikan spaceX. dia tau kalo ngirim roket keluar angkasa itu gak gampang dan pasti gagal, makanya dia invest hampir 70% dari duitnya buat "bayarin" kegagalan. bener aja, peluncuran roketnya gagal sampe 3 kali. baru pada percobaan keempat dia berhasil dan langsung dapet kontrak senilai 1,6 Milyar Dollar dari NASA. bayangin kalo dari awal dia gak siap buat gagal? atau dia berhenti hanya sampai percobaan ketiga? Pasti amsyong doang yang dia dapet. Sekali lagi dia tau persis apa yang dia lakukan dan dia meyakininya.
“Kegagalan adalah pilihan. kalo hal-hal yang Elo bikin nggak gagal, lo bakal kurang berinovasi,” katanya.
Gw kadang suka malu kalo abis baca kisah-kisah orang hebat macem ini. bukan apa-apa, kita dilahirkan di dunia yang sama, dikasih kesempatan yang sama juga oleh Tuhan untuk hidup dan belajar banyak hal, tapi kenapa dia bisa tapi gue engga?
Oke, nasib dan keberuntungan setiap orang boleh beda, tapi setidaknya untuk tidak menyerah dengan apa yang gw yakini, dan dengan apa yang gw impikan masa gw gak bisa nyamain dia??

Now, How About You?
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
image by google



2015 udah hampir habis. Perusahaan-perusahaan mulai sibuk bikin laporan akhir tahunnya. Evaluasi target, laporan untung - rugi, hingga grafik perkembangan dan kinerja SDM.  2015 juga bisa di bilang tahun yang kurang bagus untuk sebagian besar pelaku usaha. satu kejadian mempengaruhi kejadian lainnya, satu keadaan mempengaruhi keadaan lainnya dan akhirnya nggak sedikit perusahaan yang Tahun ini mengalami paceklik bahkan gulung tikar. dan pada akhirnya ancaman PHK yang beberapa bulan belakangan ini mulai menyala pun semakin menjadi momok yang menyeramkan bagi sebagian orang yang memang berprofesi sebagai buruh atau pekerja.

Tulisan ini juga lahir dari kondisi persis seperti itu, dimana raut-raut kekhawatiran, kebingungan dan ketakutan mulai gue lihat di wajah-wajah orang di sekitar gue.

Jujur gue prihatin, semakin sering gue denger keluhan-keluhan tentang tanggungan hidup yang terlalu tinggi. kekhawatiran menjadi jobless dan tak mampu memenuhi tanggung jawab sebagai manusia pada umumnya.

Bukannya gue nggak merasakan kekhawatiran yang sama. bukannya gue nggak mengalami ketakutan yang sama, dan bukannya juga gue nggak punya tanggung jawab yang beratnya sama. gue khawatir, gue takut, dan gue juga punya banyaaakk tanggung jawab yang sama besarnya.

Tapi apa setelah itu gue boleh mengeluh? apa setelah itu gue boleh berputus asa seperti yang kebanyakan orang pilih? bayangkan sekumpulan orang, lalu mereka semua mengeluh, berputus asa dan saling meratapi nasibnya? betapa menyedihkannya hal itu jika memang ada. dan gue nggak mau menjadi manusia yang menyedihkan.

Makanya gue selalu bilang, berhenti berputus asa. selama kita masih mau bergerak, jalan akan selalu terbuka, sesulit apapun caranya. kalo orang jawa bilang " ora obah ora mamah, nek mengin mamah yo mesti obah" 

bagaimana pun caranya, teruslah bergerak. "Gerakan kan butuh biaya, mas?" celetuk seseorang ke gua. " Ya lo jual aja aset yang lo punya dulu buat modal pergerakan lo. yang penting semangat lo jangan pernah lo biarkan berhenti, jangan lo biarkan mati. aset bisa di beli. tapi semangat nggak ada yang jual" jawab gua singkat.

Atau mari kita coba sedikit berfikir positive seperti yang kebanyakan motivator perintahkan. Barangkaliii.. barangkaliii Tuhan telah merencanakan sesuatu yang lebih indah dan lebih baik buat kita di luar sana. tapi kita terlalu nyaman dengan zona kita sekarang sehingga enggak untuk melangkah keluar menuju rencana Tuhan. Akhirnya dipaksa keluar deh sama Tuhan. 



" Heh, kamu.. Itu aku merencanakan sesuatu yang indah untukmu, keluar, gapailaahhh..

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)"

begitu kata Tuhan.. hehehehe

Jadi Ayo.. Berhenti meratapi nasib, Berhenti mengkhawatirkan masa depan. teruslah bergerak agar kita tak lantas jatuh. karena hidup kadang sesederhana quotes nya Albert einstein “Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving - Hidup itu kaya maen sepeda, lo perlu terus bergerak agar tetap seimbang dan tak terjatuh." :D
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
( image by google )



Tulisan ini di picu oleh sebuah quotes inspiratif yang gue temukan di twitter beberapa hari yang lalu. quotes itu berbunyi :

" Bukan seberapa besar masalah dalam hidup kita. tapi bagaimana respon kita terhadap masalah tersebut itulah yang terpenting."

Dulu gue pernah punya manager, satu hal yang bikin gue selalu ingat sama dia adalah motto hidupnya yang selalu dia dengungkan dan sampaikan kepada para karyawan setiap breafing. katanya begini :

"Apapun yang terjadi, jangan membiasakan diri melakukan B.E.J. ( Blame, Excuse, Justification ) ."

Dan gue sangat setuju. terkadang, ketika sebuah kesalahan kita lakukan, atau ketika sebuah hal buruk menimpa kita, kita enggan untuk melakukan instropeksi atau mencari solusi. Kita lebih suka melakukan pembenaran, beralasan, bahkan lebih parahnya lagi menyalahkan orang lain dan keadaan.

Satu contoh adalah baru-baru ini, ketika kondisi ekonomi lagi gak karuan, para pelaku usaha mengeluhkan Omset mereka yang terjun bebas, boro-boro profit. Nggak bangkrut gara-gara kebanyakan nutupin defisit keuangan aja untung. lalu sebagian besar dari kita berteriak menyalahkan banyak hal, dari mulai pemerintah, dollar, sampai tukang parkir ikut disalah-salahin.

Padahal kalo kita mau membuka mata hati dan fikiran kita lebar-lebar, sepahit apapun kondisi perekonomian saat ini, itu akan menjadi sebuah tantangan kalo saja kita bisa meresponnya dengan positive. dan ketika kita menganggapnya tantangan, fikiran kita pun akan fokus untuk mencari solusi. tapi kalo dari awal respon mental kita udah B.E.J, ya boro-boro mikirin solusi, otak jadi males dan isinya cuma : salah pemerintah!! salah kuda lumping!! salah si ini!! salah si anu!! blablabla.

Gue jadi inget sebuah artikel yang di tulis oleh Prof Rhenald Kasali dalam kolomnya di harian Kompas, Bunyinya seperti ini :

"Daripada mereka-reka kapan dollar AS akan kembali turun, atau tenggelam dalam rasa takut yang besar bahwa PHK besar-besaran akan terjadi, lebih baik kita paham apa yang tengah terjadi, mengapa, dan bagaimana meresponsnya.

Gejala ini kita sebut sudden shift (tiba-tiba berpindah). Faktanya, konsumennya tetap di situ, populasinya tetap besar, semuanya butuh makan, minum, transportasi, gadget, hiburan, dan sebagainya. Akan tetapi, siapa yang menikmati perpindahan itu?"


Yups, gue sih setuju banget sama apa yang tertulis di atas, seburuk apapun kondisi perekonomian, jumlah populasi manusia tetap sama, dan semuanya tetep butuh makan, minum, transportasi, komunikasi dll. kita cuma perlu sedikit peka dalam merespon perubahan trend di masyarakat.

Banyak kok contohnya mereka-mereka yang merespon kondisi "Krisis" ini sebagai tantangan dan justru menikmati perubahan tersebut. kita liat aja Go-Jek, di saat banyak perusahaan transportasi mengeluhkan pemasukan mereka yang makin merosot, Go-Jek justru naik daun dan menjadi primadona baru transportasi yang menjadi incaran warga ibokota.

Coba kita cari tau juga, berapa persen kenaikan Omset perusahaan-perusahaan jual beli online yang sekarang lagi booming banget? sebagian besar mungkin di atas 100 persen. di saat para pedagang di tanah abang pada gulung tikar, Toko-toko jual beli online malah berkembang pesat. aneh? ya enggak. kita cuma perlu sepakat bahwa siapa yang peka dan cepat merespon perubahan, maka dialah yang akan jadi pemenang. kalo kata PidiBaiq : "Yang Hebat bukanlah yang kuat bertahan, tapi yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan." 


yaks, kalo kita menginginkan sesuatu berjalan dengan benar, maka kita juga harus memulainya dengan cara yang benar. dalam hal ini kita perlu memperbaiki dulu cara pandang dan cara berfikir kita. cara kita memandang sesuatu akan mempengaruhi sikap dan tindakan kita. itu pasti.

Dan akhir kata, gue bukannya lagi sok menggurui, sok pintar, atau sok2 lainnya. gue cuma lagi pengin mengajak anda, lo, ente, kalian semua untuk mulai membuka mata, menggunakan otak untuk berfikir mencari solusi, bukan pintar mencari alasan atau sibuk menyusun kalimat pembenaran. nggak mudah emang, tapi apa salahnya di coba? ya kan?? iyalaahh..

Bukankah kata orang bijak : "seseorang dikatakan berhasil bukan karena tak memiliki masalah, tetapi karena dapat mengatasi masalahnya. Seseorang disebut bahagia bukan karena hidupnya tanpa kesusahan, melainkan karena ia tetap dapat merasakan kebahagiaan walaupun ditengah-tengah kesusahannya."

So, mari berfikir positive, berfikir kreative, dan jangan lupa bahagia. :D


Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Huuufffttttt..

Gue memulai tulisan ini dengan sebuah keluhan panjang. Mungkin sedikit manifestasi dari harapan yang mulai mati, atau optimisme yang terlalu cepat ejakulasi. Bukan, bukan karena gue mulai kehilangan motivasi untuk menggapai mimpi, tapi sepertinya gue mulai bingung dengan konsep aktualisasi diri.

Sepanjang hidup manusia selalu dikaitkan ( atau mengaitkan diri ) dengan sebuah istilah yang berbunyi 'achievement'. Yess.. pencapaian, ntah darimana lahirnya, tapi dia muncul menjadi kata yang begitu sakti di tengah-tengah kehidupan. Kenapa gue bilang sakti? Karena kata yang cuma terdiri dari 10 huruf itu berhasil menjadi barometer berhasil atau gagalnya kehidupan seorang anak manusia.

Sekarang kita masuk ke pembahasan inti. Ngomongin pencapaian, apa yang udah berhasil lo capai dalam hidup ini? What have you done? Berhasil mencapai puncak  karir yang lo impikan? Berhasil mendapatkan cewe yang lo idam-idamkan? Atau sekedar berhasil mengupload foto selfie lo di puncak gunung ke instagram?

Sayangnya nggak selamanya pencapaian menuju ke arah yang positive. Ada kalanya bukannya berhasil mencapai puncak impian, kita justru nyasar ke puncak paling kelam dalam kehidupan. Puncak kebingungan, puncak keputus asaan, puncak kemalasan, puncak rasa minder, dan puncak-puncak yang memuakkan lainnya.

Pernah nggak lo nyasar kesitu? Gue sih sering..sesering gue membaca buku-buku dan streaming video-video.seminar  motivasi. Apa artinya? Artinya nggak ada yang bisa menolong kita ketika kita tersesat selain diri kita sendiri. Basi? Emang, tapi mari akui, seberapa sering lo ngerasa blank dalam hidup ini, nggak tau harus berbuat apa, lalu lo mulai curhat ke orang lain, mereka pun mulai fasih menasihati, memberi solusi, sambil sekali-kali memperdengarkan quotes-quotes bijak nan menginspirasi. Tapi apa yang terjadi, lo bukannya sadar, tapi lo malah mulai membandingkan hidup lo dengan orang lain, lo mulai kagum dengan pencapaian-pencapaian orang lain yang akhirnya bikin lo makin tinggi berada di puncak kebinasaan.

Sakit jiwa? Mungkin iya. Tapi yang perlu kita garis bawahi bahwa kehilangan semangat hidup dan diare itu nggak ada bedanya. Sama-sama penyakit, dan semua penyakit akan sembuh dengan obat yang tepat.

Ketika gue putus asa, gue nggak akan dengan mudah kembali mendapatkan motivasi hanya dengan mendengarkan nasihat orang lain. Gue hanya akan sadar ketika otak gue menemukan sesuatu yang mengingatkannya kembali pada masa kecil gue, masa di mana gue nggak tau apa itu achievement, masa dimana gue cuma tau cinta, toleransi, dan hari ini.

15 Tahun yang lalu ketika gue masih kelas 6 SD bapak gue pulang dari jakarta dengan membawa 1 dus balon bergambar logo sebuah produsen es krim + batang dan pompanya. Katanya dia di kasih sama temennya yang kerja jadi marketing di perusahaan es krim tersebut. sisa promo. Gue di kasih 5 plastik, 1 plastiknya berisi 100 balon. Terus dia bilang:  Abi nggak bawa uang dari jakarta, kalo kamu mau uang, besok ikut abi ke GUCI, kita jualan balon ini disana, nih abi kasih modal. semua uang hasil penjualannya buat kamu.

Keesokan harinya gue berangkat dari pagi ke guci, dan sampai sore gue berhasil menjual sekitar 70an balon dengan harga per balonnya Rp. 500. Walau pun banyak orang yang bingung balon berlogo merk es krim kok di jual? Biasanya cuma di bagi-bagikan secara gratis. Tapi toh mereka nggak tahan dengan rengekan anak-anak mereka yang minta beli karena tertarik dengan warna-warni dan gambar kartun singa yang menghiasi.
Jika sebelumnya gue bercita-cita untuk bisa bekerja di jakarta ketika udah gede nanti, sejak hari itu gue sadar, ngapain gue jauh-jauh cari duit kejakarta? Kalo di kampung sendiri aja gue bisa dapet duit? Ngapain gue kebawa arus globalisasi kalo di tempat kelahiran gue sendiri menyimpan begitu banyak potensi?

Tapi bukan hidup namanya kalo selalu berjalan seperti apa yang kita mau. Sekarang, 14 tahun dari hari itu gue malah masuk ( atau terjebak ) di kota metropolitan ini. Melupakan mimpi untuk bisa berdiri di kampung sendiri. So pathetic. Yaa, bukankah nggak ada yang lebih menyedihkan dari mimpi yang terlupakan?

14 tahun hidup di tanah rantau, bertemu dengan banyak orang, banyak cerita. Jatuh, bangun, lari, sampai hampir mati semua udah terlewati. Dan  kalo di tanya apa yang udah gue capai sejauh ini? banyakk.. banyaakk banget..tapi tetep ajaa gue merasa kurang. Bukannya nggak bersyukur, tapi mungkin gue perlu merencanakan sesuatu, sesuatu yang bisa membawa gue kembali ke mimpi masa kecil gue. Berdikari di kampung sendiri, melewati hari demi hari dengan di kelilingi cinta dari keluarga dan semesta, bertoleransi dengan takdir, hidup untuk hari ini dan mengencingi ambisi.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Study psikologi menyatakan bahwa manusia di lahirkan hanya dengan 2 rasa takut. Takut akan ketinggian dan takut pada suara keras. Jadi jika sekarang kita takut pada hal-hal lainnnya seperti takut akan masa depan misalnya. Bisa di pastikan itu hanyalah sebuah manifestasi dari tumpukan kegagalan demi kegagalan yang sudah di alami seseorang dan sangat mungkin untuk di hilangkan.

Pertanyaannya adalah, gimana caranya? Sedangkan dalam hidup kadang kita selalu saja mengalami kegagalan demi kegagalan, dan  Kekecewaan demi kekecewaan. Ntah pada diri sendiri, orang lain, lingkungan bahkan pada keadaan.

Konon, di batu nisan soe hok gie tertulis "Nobody knows the troubles i see. nobody knows my sorrow" sebuah ungkapan kegelisahan dan kesedihan mendalam dari seorang anak manusia, yang gw yakin bukan cuma dia yang merasakan itu.

Hidup tak pernah benar-benar menawarkan kestabilan. Kadang dia meletakan pistol di kepala kita sambil menawarkan sebuah kenyataan pahit yang mau nggak mau harus kita terima.

Sepanjang hidup kita hanya sibuk dengan masa depan, kemapanan, gengsi dan harga diri. Tanpa menyadari, bahwa hal-hal itulah yang membuat kita kehilangan hidup kita sebenarnya.

Sesekali kadang kita menjadi seperti Soe Hok Gie, menjelma menjadi sosok melankolis yang merasa ga ada yang bisa mengerti. Bukan seperti Kartini, yang berharap dan percaya bahwa habis gelap terbitlah terang. bukan juga seperti Khairil Anwar, yang ingin hidup seribu tahun lagi, dan sekali berarti sudah itu mati.

Pada kesempatan yang lain kita menjadi seperti Kurt Cobain, yang membenci dirinya sendiri dan lebih ingin mati. Lebih baik padam daripada pudar, katanya. Yang lebih memilih di benci asal jadi diri sendiri, daripada dicintai tapi menjadi orang lain.
Hidup itu... ntah.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Hidup dan kehilangan, adalah dua hal yang jelas tak terpisahkan. Selama kita masih bernafas dan berpijak di dunia yang pasti akan berakhir ini kehilangan adalah sebuah niscaya. Apa saja dan kapan saja. Mau ga mau, siap ga siap pada akhirnya kita di paksa untuk rela.

Katharine Weber, seorang musisi pernah berujar : " Life seems sometimes like nothing more than a series of losses, from beginning to end. That's the given. How you respond to those losses, what you make of what's left, that's the part you have to make up as you go."

Ditinggal keluarga meninggal adalah sebuah kehilangan, di tinggal kabur binatang peliharaan juga sebuah kehilangan, bahkan ditinggal kawin seorang sahabat pun adalah sebuah kehilangan. Dan ini yang sempet bahkan masih gue rasain. Kehilangan seorang sahabat.

Coba bayangin, lo punya temen, siang malem bareng, makan bareng, tidur bareng, bandel bareng, sholeh juga bareng. Lo selalu terlibat dalam hidupnya. Lo selalu ada dalam setiap keputusannya dan lo juga selalu ada dalam prestasi maupun kesalahannya. Tapi kemudian dia menikah. Memulai sesuatu yang baru tanpa ada lo di dalamnya. Lo ga akan lagi terlibat dalam hidupnya. Lo ga akan lagi ada di setiap langkahnya. Apa yang lo rasain? Mungkin lo bisa jawab biasa aja. Tapi mari kita akui, ada saat dimana lo tiba-tiba kaya linglung dan sedih. Bukan karena lo pengin nyusul nikah juga. Tapi lebih ketidak siapan akan kehilangan, ntah kehilangan dia atau kehilangan masa-masa indah dan tolol bersama dia.

Efeknya? Seperti layaknya seseorang yang sedang kehilangan. Murung pasti, sensi, bahkan untuk beberapa saat kehilangan gairah hidup. Kalo dalam dunia psikologi ada yang di sebut pre marriage syndrom, maka untuk gejala-gejala di atas gue menyebutnya:  Pre Best Friend Marriege syndrom. Atau sindrom di tinggal kawin sahabat. Hahaha lebay memang, tapi kalo lo udah pernah ngerasain lo bakal percaya kalo di tinggal kawin sahabat lebih menyedihkan daripada di tinggal kawin mantan.

Tapi tenang aja, ketika lo ngeliat tawa sumringahnya di pelaminan dan lo duduk termenung di barisan bangku tamu kaya kadal gurun yang kebingungan (apalagi kalo lo kondangannya sendirian) lo akan mengerti bahwa mulai detik itu kehidupan memang harus berubah. Dan itu adalah hukum kehidupan, bahwa kita akan mengalami perubahan demi perubahan. Lo juga akan mengerti bahwa mulai detik itu gak cuma dia yang lo ucapin selamat menempuh hidup baru, tapi juga diri lo sendiri. Menempuh hidup baru tanpa dia. Dan pada akhirnya lo akan sadar, bahwa pada akhir  adalah juga sebuah awal untuk sesuatu yang baru.

Waktu terus berjalan, manusia datang dan pergi, dan cerita terus berganti. Tapi kehidupan, kawan.. bukan seberapa lama waktu yang kita habiskan untuk menulis cerita bersama seseorang. Tapi tentang seberapa kuat kisah itu menancap di dalam hati. Menjadi kenangan sekaligus pelajaran.  Happy wedding Ega & devi, barakallah. :-)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sekitar 13 tahun yang lalu ketika gue baru kelas 5 SD, seperti biasa gue selalu menghabiskan waktu liburan sekolah gue untuk ikut bokap ke jakarta.

Di jakarta gue sering ikut bokap jualan. Dulu bokap masih jualan minyak wangi dan sendal keliling. Dan di akhir pekan biasanya bokap ngajak gue ke ragunan. Iya buat liburan. Sekalian jualan.

Suatu hari, di siang yang panas itu, di bawah naungan pepohonan dan di antara burung2 merpati liar yang terbang kesana-kemari di area parkir taman marga satwa ragunan. Bokap menggelar dagangannya. Puluhan sandal dan botol minyak wangi yang tadinya tertumpuk rapih di dalam tas ransel besar di keluarkan satu persatu, di susun sedemikian rupa dengan harapan bisa menarik perhatian orang yang banyak lalu lalang.Kami nggak sendirian disitu, di samping kanan kiri kami juga berjejer penjual2 lain. Dari sekedar penjual kopi, mainan anak2, obat, pakaian sampai perkakas rumah tangga.

Sementara gue lagi asik baca buku 'Rahasia ke tajaman mata hati' karya Imam ghazali yang di beliin bokap satu hari sebelumnya dari tukang buku yang biasa mangkal di teras masjid Al-muttaqin, samping markas pemadam kebakaran kebayoran baru.

Walaupun suasana bising dan asap kendaraan membuat udara sejuk dari pepohonan menjadi tak terasa. Gue tetep asik baca, sampai tiba2 di depan kami melintas seorang pemuda, dengan membawa 1 box kontainer tanpa tutup yang berisi kopi dan rokok itu dia berlari kencang sambil berteriak 'Raziaaa..!! Raziaaaa..!!' Dia nampak begitu ketakutan sampai tak memperdulikan isi boxnya yang berceceran di jalanan.

Lalu di belakangnya di susul pedagang2 lain yang juga menggulung dagangannya sebisa mungkin dan segera berlari.

Sementara gue masih kebingunan dan masih mencoba memahami apa yg terjadi, bokap ikut2an menggulung dagangannya. Kemudian dia tarik tangan gue sampai buku gue jatuh. Dengan susah payah dia ngajak gue lari. Dipeganginnya erat tangan gue dengan tangan kiri yg di pundaknya menggendong tas ransel besar. sementara tangan kanannya membawa gulungan dagangan. Beberapa botol minyak wangi sempet jatuh dan pecah. Tapi dia ga perduli dan nyuruh gue tetep berlari.

Di tikungan belakang ragunan yang menuju kebagusan itu gue berhenti, gue nangis, bukan cuma karena gue cape, tapi karena gue kaget, gue takut dan gue juga kehilangan buku.

Bokap nampak bingung, dia noleh ke belakang ,setelah dia rasa kita udah selamat dan aman dari kejaran satpol PP dia ngajak gue duduk. Di kluarinnya sebotol air mineral dari dalam tas ransel dan gue di suruh minum.

" Kita salah apa, bi?? " ujar gue pelan setelah menenggak setengah dari isi botol itu sambil sesenggukan.

Bokap gue cuma senyum dan bilang " Besok, Abi ganti buku kamu yang jatuh tadi dengan buku yang lebih buanyaaaaakkk lagi " setelah itu kita muter balik jalan menuju terminal dan pulang naik Kopaja 605A.

Sejak saat itu gue ga pernah boleh ikut bokap jualan lagi. Tiap dia mau berangkat jualan dia terlebih dulu nganterin gue ke perpustakaan Umum jakarta selatan. Yaa..dia menepati janjinya untuk mengganti buku gue yang jatuh dengan buku yang lebih buanyaakk lagiii.. di perpustakaan gue bisa baca buku sebanyak yang gue mau. pagi gue di anter ke perpus, bokap berangkat jualan. ntar kita ketemu di masjid bacang belakang pasar taman puring pas waktu dzuhur untuk sholat dan makan siang. Abis itu bokap keliling lagi dan gue balik ke perpus lagi sampe sore. Selalu seperti itu sampai waktu liburan gue habis dan gue balik lagi ke tegal, dan akan terulang lagi kalo gue liburan dan datang ke jakarta lagi.

Ini sedikit kisah yang terjadi antara gue dan bokap. Bokap gue mungkin bukan sosok ayah yang sempurna, dia mungkin ga kaya penguin caisar yang rela berbulan-bulan ngeramin telor dan ngurus bayinya sendiri setelah netas. Bokap gue egois, kolot, otoriter, keras kepala dan lain-lain. Ntah berapa kali gue harus kluar dari rumah karena di usir sama dia tiap kali gue bikin ulah, ntah berapa kali gue hampir adu jotos sama dia. Tapi ntah jadi apa gue kalo tanpa dia, ntah tau apa gue soal hidup kalo tanpa dia.
Kadang gue sedih sendiri tiap ngenang hal-hal kaya gini. Tiap inget betapa gue belum bisa bikin dia bangga.

Kadang gue coba buat bikin dia bangga dengan ngasih sedikit uang, tapi kalo ga di tolak pasti di balikin di kemudian hari. Kata-katanya selalu sama ' ini uang hasil keringatmu, nikmatilah. Abi sadar, karena keterbatasan abi ga bisa selalu memberikan apa yang kamu mau dari kecil. Sekarang, gapailah apa yang dulu ga bisa kamu gapai. Selama kaki ini masih bisa berdiri, sepeser pun abi ga mau memakan keringatmu' Ya, begitulah dia. Si tua bangka keras kepala. Tapi jujur gue menyayanginya.

And last, ini Ayahku, bagaimana ayahmu? Cerita apa yang kau punya dengannya? Dan kebanggaan apa yang telah kau berikan padanya???

A. Moezaki Irkham
Lima sembilan dua kosong kosong empat.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
image by google

Joel Ostenn dalam bukunya yang berjudul Your Best Life Now: 7 Steps to Living at Your Full Potential menuliskan "You must make a decision that you are going to move on. It wont happen automatically. You will have to rise up and say, ‘I don’t care how hard this is, I don’t care how disappointed I am, I’m not going to let this get the best of me. I’m moving on with my life.”


Sekitar 3 Tahun yang lalu, dengan penuh semangat untuk menyongsong masa depan gue berangkat dari tegal menuju bekasi bermodalkan secarik alamat dan selembar uang 50.000 dapet minjem setelah mendapatkan telfon untuk bekerja di tempat kerja gue yang sekarang. itu adalah salah satu bagian dimana gue mengambil keputusan yang cukup nekad dalam hidup ini. 

Seperti layaknya kebanyakan orang yang baru tiba di tempat baru, suasana baru, dan orang-orang baru Awalnya gue nggak begitu betah, tapi karena mau pulang kampung juga nggak punya ongkos, akhirnya mau nggak mau gue nahan-nahan terus. "minimal sampe gue dapet ongkos buat pulang kampung dan bayar utang ke tetangga yang gue pake buat berangkat dulu" fikir gue kala itu.

Tapi ternyata seiring berjalannya waktu gue menemukan kenyamanan disini, gue berhasil menemukan dunia gue disini sampe-sampe nggak terasa sekarang udah 3 tahun lebih ajaa -__-.

Ntah bagaimana gue harus mulai bercerita sekarang, karena selama 3 Tahun hidup di sini telah begitu banyak cerita tertulis di hidup gue,menjadi bagian penting dalam membentuk diri, pribadi dan pola fikir gue yang sekarang.. gue belajar dan mengalami banyak hal. mulai dapet temen-temen baru, dapet pacar baru (walaupun cuma beberapa saat..hehe ). saudara baru dan musuh-musuh baru juga. mulai dari gila-gilaan semaleman, sampe berantem di kroyok 7 orang gue rasain disini..

jujur gue nyaman disini, nyaman banget. tapi pada akhirnya hidup menampar gue sehingga gue tersadar kalo gue nggak bisa terus-terusan terjebak di zona nyaman kaya gini. orang bilang "Get out of your comfortzone: it's gonna kill you" dan gue percaya. gue merasa kenyamanan gue disini lama-lama bisa ngebunuh gue, kenyamanan cuma bikin gue nggak berkembang dan gue nggak bisa kaya gini terus kalo emang gue mengharapkan kehidupan yang lebih baik, bukankah hal gila jika kita menginginkan hasil yang berbeda dengan cara yang sama?? itulah kenapa akhirnya sekarang gue memutuskan untuk 'Move On' ke tempat lain. sama seperti ketika dulu gue tiba disini, gue pengin nyoba cara lain untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

Pada akhirnya apapun yang terjadi di tempat yang baru kelak gue nggak akan pernah nyesel udah ninggalin zona nyaman gue disini. setidaknya gue udah berani melangkah ke depan. 7 Tahun ini gue udah muter-muter jawa, sumatera dan kalimantan. ntah kapan gue bakal berhenti yang jelas sekarang gue masih muda dan gue nggak mau mensia-siakan waktu dan kesempatan yang ada untuk belajar banyak hal terutama belajar tentang kehidupan.

Gue pasti bakal kangen banyak hal yang cuma bisa gue temuin disini. 

Terimakasih bekasi, untuk semuanyaaaa..terimakasih juga untuk temen-temen dan saudara yang nggak bisa gue sebutin satu persatu atas support,bantuan, dan cinta yang kalian berikan selama gue disini.. terimakasih telah menggoreskan sedikit cerita di hidup gue. Seperti yang di bilang seorang penulis asal jepang Haruki Murakami “No matter how much suffering you went through, you never wanted to let go of those memories.”  yakkk, semuanya nggak bakal gue lupain, semua yang terjadi selama 3 Tahun ini,pahit,manis dan asem bakal menjadi kenangan indah yang tersusun rapi di dalam hati gue, dan pada saatnya nanti bakal gue buka lagi satu persatu lembarannya untuk gue salin di buku autobiografi..Amiinnn...hahahaha

Sekali lagi, terimakasih Bekasi.. I'll be missing you :-*
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

About Me

My photo
Moezaki Irkham
I'm forever blowing bubbles
View my complete profile

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2022 (2)
    • ▼  April (2)
      • Rasio Tuhan
      • EKPRESIONISME HIDUP ALA ABU KILABAH AL JARMI
  • ►  2021 (1)
    • ►  September (1)
  • ►  2020 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  April (4)
  • ►  2018 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2015 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2014 (3)
    • ►  September (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2013 (33)
    • ►  December (2)
    • ►  November (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (3)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2012 (48)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (7)
    • ►  September (6)
    • ►  August (1)
    • ►  July (8)
    • ►  June (2)
    • ►  May (4)
    • ►  April (3)
    • ►  March (4)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (59)
    • ►  December (3)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (8)
    • ►  July (4)
    • ►  June (3)
    • ►  April (6)
    • ►  March (9)
    • ►  February (9)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (48)
    • ►  December (3)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  August (1)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
    • ►  February (15)
    • ►  January (11)
  • ►  2009 (61)
    • ►  August (23)
    • ►  June (20)
    • ►  May (18)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Created with by ThemeXpose | Copy Blogger Themes